.: iKan" kuu :.

.: aBout me :.

Foto Saya
Akulah sang aktor. Aku yang memegang kendali atas hidupku. Teman boleh mewarnai, keluarga bisa saja mendikte, lingkunan mungkin saja mempengaruhi. Tapi semua itu tetap bermuara pada pribadiku sendiri..

Kecewa



Aku benar-benar mencoba tidak berharap selain pada-Nya.
Namun, ketika aku disini sendiri, memikirkan apa yang terjadi, aku tahu rasa ini yang mereka sebut "kecewa"
Di sebuah ruang penantian, ternyata aku memang dilupakan. Pantas aku tak disapa.
Mencoba mengadu pada Dia. Satu-satunya yang tahu apa yang aku rasakan ini.
Lagi-lagi menambah sesak di dada, tatkala aku hanya mampu berteriak di dalam hati, sekuat-kuatnya.
Ya Rabb, aku tak meminta dihilangkan segala beban masalah-masalahku.
Yang aku minta adalah punggung yang kuat yang mampu menopangnya.


Dulu indahlah yang terbayang,
Walaupun diawal yang menyakitkan,
Semoga tak membuatku berhenti berharap untuk mendapatkan manisnya..



1 Suro-Napak Tilas Mbah Maridjan

Sudah 3 hari yang lalu simbahku pulang dari Haji, tapi kami sekeluarga belum ada yang mampir ke rumah beliau dan "nanggap" cerita pengalaman menunaikan Rukun Islam yang ke-5 itu. Akhirnya hari Minggu ini kebetulan banyak yang selo (baca: senggang), kami berniat nyari gratisan kurma. Nah loh? Ya walaupun my big brother and little brother ndak bisa ikut, ayahku tetap nawaitu kesana. Habisnya kalau nunggu semua selo bakalan susah.

Babe, ibuk, adik perempuanku dan aku-lah yang pagi tadi bisa meluncur ke Rumahe Simbah di Cangkringan.

Sudah 19 tahun mengenal babe, aku hafal betul sifatnya. Berasa tidak mau berlama-lama hanya kurang dari 1 jam disana kami langsung pamit. Jians.

Ternyata ada tujuan lain mengapa kita segera bubar dan minta pamit. Hari ini tahun baru 1433 H atau kami masyarakat Jawa biasa menyebutnya 1 Suro. Pada tanggal ini banyak orang yang meluangkan waktu untuk ziarah ke makam. Dan babe mengajak kami Napak Tilas Mbah Maridjan lansung setelah dari tempate simbah. Pikirku ndak papalah ikut. Toh jarang-jarang aku hang out bareng simboke :D

Perjalanan tak semulus Jalan Jogja-Magelang. Alhasil hanya dengan nujum plus ilmu kira-kira jalanan yang kami dapatkan bagai kali asat (baca: sungai kering). Bagaimana tidak? berasa track-trackan aku. Batu sebesar kepalan tangan sampai kepala orang masih sembarang ada di tengah jalan. Harus meliuk-liuk bagai ujian SIM tempo dulu (malahan lebih parah ini). Gundukan-gundukan pasir memaksa kedua tangan ini standby di rem. Tanah yang tidak rata kadang memaksa adikku yang tak boncengke turun dan tak suruh nyurung. Ahiak, maaf ya dek.

Ketika babe sebagai nahkoda yang berada di depan seketika berhenti, aku langsung bisa menebak pasti ada yang tidak beres. Benar saja, kami tidak bakal bisa melewati ini. Whoy ini Kali Opak. Huwaa. Begitu dalam dan besarnya sungai di depanku ini. Terpaksa dengan ditambahi muka yang cemberut kami balik arah dan melewati jalan ekstrim tadi. Ibuuk :(

Berasa pengen pulang dan meninggalkan Ayah-Bundaku. Tapi aku tidak setega itu, di dalam hati kecil ini takut terjadi apa-apa dengan mereka. Jalan yang ngajak tawur ditambah sudah tidak ada kehidupan memberatkanku untuk pulang. Nanti nek ada apa-apa siapa hayo yang mau nolong? Hoff, akhirnya kulanjutkan pengintilanku mengikuti mereka.

Niatku dipermudah Alloh (thanks God), jalanan mulai kurasakan semulus kulit yang selesai diberi hand and body :D Dan setelah sampai di Desa Kepuharjo, cemberutku hilang dan rasa dongkolku musnah.

Disini dulu ada kehidupan. Sekolah, rumah, masjid semua bagaikan lingkungan yang terkena gusur secara paksa dengan buldoser. Ini lebih dahsyat, karena sopirnya langsung oleh Sang Pencipta alam semesta: Alloh Subhanallohu Watta Alla.







Ya Rabb, ini benar-benar membuatku tampak lemah dihadapan-Mu..

Setelah bayar HTM dan parkir, dengan modal kaki kami melanjutkan perjalanan ke bekas Rumah Mbah Maridjan. Jalanan yang menanjak membuatku berkata, "Ben dina ngeneki, kuru aku!" Haha :D






foto bentar yaa..



Terdengar dengan jelas sang pemandu berkata jarak yang akan kami tempuh dari tempat parkir menuju rumah Mbah Maridjan = 1 KILOMETER! Alamak, langsung aku tarik napas panjang.

Solah tak menghiraukan itu, termasuk banyak juga para wisatawan baik domestik maupun manca yang berkunjung. Selain tanggal ini yang memang "khusus", bekas desa ini sudah disulap menjadi tempat wisata. Dan setelah 1 km terlewati, inilah yang ada dihadapanku.






bekas rumah Mbah Maridjan


Jelas sekali mobil ini merupakan saksi bisu. Mobil inilah yang menyelamatkan berpuluh-puluh nyawa, dari ratusan jiwa yang ada. Aku hanya bisa merenunginya.




Tepat persis didepan bekas rumah Mbah Maridjan, terdapat spanduk rentang yang bertuliskan:


Pepeling Mbah Maridjan:
"Ajining manungsa iku gumantung ana ing tanggungjawabe marang kewajibane."
-Kehormatan seseorang dinilai dari tanggungjawab terhada kewajibannya-
Mas Panewu Surakso Hargo (Mbah Maridjan)



Begitu dalam makna kata-kata itu. Dan dilangkahku meninggalkannya, dalam hati aku berkata: Mbah Maridjan, aku begitu bangga padamu. Bukan saja aku, tapi kami (Masyarakat Jogja).

Majelis jejak Nabi



Sang Nabi adalah cahaya kehidupan
seluruh sisi kehidupannya
memancarkan kemuliaan
Mari susuri kisahnya,
setapak demi setapak di tiap pekan
Moga mengalir cinta, iman, amal
dan keberkahan
dalam kajian
di MAJELIS JEJAK NABI


Setiap hari Kamis,
ba'da sholat ashar till before magrib
@Masjid Jogokariyan
Bersama Ust. Salim A. Fillah


Insya Alloh ilmu yang didapat begitu menyegarkan :)



Kata-Kata Mutiara Hari Ini



Pandangilah mentari yang selalu setia menyapa dunia tiap pagi
Belajarlah pada titik-titik embun di rerumputan
Meski hanya setetes, ia selalu setia memberi kesegaran


Cobalah menjadi ombak di tepi pantai
Meski segera kering, tapi selalu kembali membasahi pasir yang tak terhitung


Jadilah bintang dikala malam
Meski kedipnya tak mampu terangi bumi, tapi tetap memberi keindahan dalam kegelapan


Tuhan merangkai hidup ini tak seindah yang kita idamkan, tapi tak juga sepahit yang kita cemaskan
Dia meajutnya dengan kasih yang bersemaikan tangis dan senyuman
Dengan bijak, Dia menuntun kita untuk selalu belajar memahami segala maksud-Nya


Hiduplah dengan seribu arti
Awali pagi dengan rasa syukur dan semangat :)



Kajian vs Ngangkring

liat arak-arakan di malioboro , apa ikot kajian yah ?
uundLicious, [+] Tue 18 Oct 15:24 via TweetDeck

Itu statusku kemarin sore, karena memang saat itu aku sedang galau. Hho, generasi galau semakin marak yah..

Selesai kuliah, 18 Oktober 2011 ada schedule apakah?

PERTAMA!
Pukul 15:00 WIB, di sepanjang Malioboro akan digelar Pesta Rakyat Yogyakarta, liat arak-arakan niakahane Putri Bungsu orang Nomor 1 di Jogja [Kanjeng Sultan] plus dibuka dengan megah sampai bikin gerah 200 angkringan dan itu semua: FREE!
Tawaran yang menarik memang, apalagi buat mereka anak rantauan alias anak kost. Lumayan, ngirit enggak keluar ongkos makan malam lah :D

KEDUA!
Pukul 15:30 WIB, di kampus tercinta Jurusan Analis Kesehatan Ngadinegaran MJ/III [lengkap amit pak] akan diadakan Kajian Shiroh Sahabat: Salman Al-Farizy Si Pencari Kebenaran. Awalnya enggak terlalu ngeh sama ustadnya. Tapi temanya itu lho, menarik gilak!

So, what's your choice?
Ehh, masih ada satu pilihan lagi deng:

KETIGA!
Pulang ke rumah, tidur siang [sudah agak sore sih sebenere yak], istirahat jadi malemnya bisa ngerjain job dari Bu Datik. Wah kenapa dari kemarin nama gadis itu muncul terus yah? Hemp, wah bisa-bisa populeran ellu ntar daripada empunya blog ini. Hadoo..
Iya, sama Bu Datik [Bu datik ini teman sekelasku lho, jangan salah. Dipanggil "Bu" soalnya dia panggil aku "Pak". Nah loh? Ada apa ini? :D] disuruh buat sketsa gambar lomba mewarnai acara SKI di kampus. SKI apa, baca postingan: Rekruitmen BEM JAK 2012 Part I. Dari dulu orang-orang pada minta tolong wae yah, kapan diongkosinya? Hha. Just kidding! Ikhlas dan Insya Alloh, Alloh sudah memikirkan ini.

Dengan bijak, aku pilih pilihan kedua: Ikut kajian di kampus.
Subhanalloh, agek tobat tek e :D
Karena aku benar-benar tertarik dengan tema yang akan dibahas. Si Pencari Kebenaran. Pikirku, pasti banyak kisah-kisah teladan disana.

Dan benar saja, dari awal sang pembicara [Ustadz Salim] ngendika [baca: ngomong] sudah langsung membuatku ndesel di shaf paling depan. pembicaranya pinter ngomong ki :D
Harus dari mana memulai bercerita tentang pesan kajian kemarin aku bingung. Ustadz salim yang Alhamdulillah yaa [gaya Syahrini punya] ditambah sosok pribadi Salman Al-Farizy sendiri yang memang menarik benar-benar membuatku antusias dalam kajian kali ini.

Semua yang beliau sampaikan begitu berkesan, namun jika aku guyon dengan teman sebelahku [Uprik namanya] kita menyimpulakn 3 pokok bahasan yang begitu mengena dihati.
1.Sombong itu penting, tapi harus ikhlas.
Ndak perlu aku jelaskan lah ya, nanti dikiranya aku jadi ustadz dadakan lagi. Malah mau kultum disini :O
2.Menikahi orang yang dicintai itu kemungkinan, tapi mencintai orang yang dinikahi itu kewajiban.
Sedikit cerita, ketika kalimat ini disampaikan aku menatap ke langit-langit ruangan sejenak berfikir dalam-dalam, tidak lama kemudian saling berpandangan dengan Uprik dan ... Teng-tong! Terlalu lama berfikir dan tidak tahu maksutnya. Hha, wong ediyann. Yang akhirnya minta pencerahan dari teman sebelah kananku: Dwoyo, untuk menjelaskan masalah ini :D
3. Joke: Polisi tidur aja ngrepoti, apalagi polisi yang ...
Hha, walaupun beliau ndak melanjutkan kalimatnya, tapi kami semua sudah tahu maksutnya. Candaanya yang begitu menyegarkan namun tetap dalam batasan-batasan yang tidak berlebihan membuat para peserta kajian serasa diajak ngobrol-ngobrol saja. Tidak terkesan menggurui. Disini asyiknya beliau. I like it!

Selesai kajian, seperti biasa nyetem dulu di Warkema ku sayang [Warkema: Warung Kejujuran Mahasiswa, gaweane bidang 4, proker kami di BEM 2011]. Dan sepertinya kami sepakat kalau ustadz Salim begitu hebat. Apa yang beliau bahas menjadi topik pembicaraan kami sambil menunggu waktu Adzan Magrib. Dapet info kalau beliau rutin mengisi pengajian di Masjid Jogokariyan setiap hari kamis ba'da Ashar. Aku sama Uprik langsung toss, dan Insya Alloh besuk Kamis langsung cap cus mau ikut :)
Yang aku sayangkan malah dari sisi peserta kajiannya kemarin. Hellow! Pada kemana sih, kok kemarin yang datng cuma sedikit. Sayang tauk!
Yha mungkin pada milih berangkat ngangkring di Malioboronya. Kan pemikiran mereka belum tentu sama denganku.
Tapi kalau ditanya gag datang ke pesta rakyat kemarin, AKU GAK NYESEL!
Sekali lagi: I like it :)